support by:

Hosting Unlimited Indonesia

Friday, May 17, 2019

thumbnail

NIKMATNYA SUASANA DESA DI OMAH KECEBONG


OMAH KECEBONG.-  Resto dan rumah budaya yang dilengkapi dengan guest house dan juga kebun holtikultura. Bagi kalian yang bosa dengan penatnya kota kalian dapat mengunjungi tempat ini. Tempat yang sangat khas dengan suasana pedesaan dan juga dilengkapi dengan area persawahan memberikan pemandangan hijau yang menyejukan. 

Berbagai aktifitas pedesaan juga diberikan oleh Omah Kecebong sebagai daya tarik bagi pengunjung. Pengunjung dapat bermain dengan berbagai macam permainan tradisional yang disediakan. Sendal bakiak, enggrang, dan sebagainya. Di sini juga terdapat seperangkat gamelan jawa,

Bagi pengunjung yang ingin menginap pun akan sangat kental suasaan pedesaanya. Guest House yang di dirikan dikawasan ini mengambil konsep lawasan. Konsep ini menggunakan bangunan yang bernuansa jawa tradisional yag terbuat dari gebyok kayu jati dan atap joglo atau limasan kuno.

Yang paling menjadi daya tarik pengunjung di sini adalah Gerobak Sapi. Pengunjung dapat menikmati keliling daerah sekitar omah kecebong menggunnakan gerobak sapi. Selain menggunakan gerobak sapi pengunjung juga dapat berkeliling menggunakan sepeda onthel. Tempat favorit di sekeliling omah kecebong salah satunya Dusun Ketingan. Di dusun banyak sekali burung bangau yang tinggal. Selain itu pengunjung juga biasa berkujung sentra wisata kerajinan bambu di dusun Sendari.

Sebagai restoran Omah Kecebong memiliki menu khas tradisional jawa. Salah satu menu khas Omah Kecebong adalah sayur lompog, oseg mbang kates,oseng tempe dan masih ada menu lainnya.
Lokasi            : Omah Kecebong Resto
                         Sendari (Cebongan) Tirtoadi, Mlati
                         Sleman, Yogyakarta

Tlp                  : 0817 0290 771

Harga menu  : Rp 6.000 - Rp 108.000
Buka              : 09.00-20.00
Email             : omahkecebong@gmail.com
Website       : http://omahkecebong.com/

Monday, May 13, 2019

thumbnail

Puri Mataram Sleman: Tempat Wisata Bernuansa Tradisional

SLEMAN.-  Membahas megeai tempat wisata di Yogyakarta memang tidak ada habisnya. Kali ini kita akan bergeser ke arah utara dari Kota Yogyakarta yakni Sleman. Sleman adalah salah satu kebupaten di Provinsi Yogyakarta yag mengalami perkembangan sangat pesat. Kabupaten Sleman memiliki bayak sekali potensi daerah khususnya di bidang pariwisata. Kali ini kita aka membahas salah satu tempat wisata baru yang ada di Kabupaten Sleman yaki Puri Mataram.

Puri Mataram berada di Dusun Drono, Tridadi, Sleman. Wisata ini dikelola ole pemerintah Desa setempat bekerjasama dengan Kampung Flory. Pada dasarnya Puri Mataram adalah sebuah restoran yang mengusung konsep Tradisional dari Kerajaan Mataram. Segala bentuk tradisionalya sangat nampak pada desain bangunan dan makanan yang berada di tempat ini. Banyak sekali makanan tradisional yang dijual di sini contohnya cenil, thiwul, dawet dll.

Selain restoran yang mengusung kosep tradisional, Puri Mataram juga memiliki sebuah taman bunga yang bisa dijadikan tempat berswafoto. Taman bunga ini memiliki bebrapat spot foto menarik seperti miniatur tugu Jogja, ayunan, gerobak sapii dan beberapa lainnya. Untuk  masuk ke taman bunga ini pengunjung akan dikenakan biaya sebesar 10 ribu rupiah. Setelah mendapat izin masuk taman bunga tersebut pengunjung akan melewati sebuah jembatan bambu yang tentuya juga sangat bagus untuk berfoto.

Untuk menuju Puri Mataram sendiri sebenarnya sangatlah muda. Jika kalian dari arah Kota Yogyakarta kalian tinggal mengambil jalan ke arah Magelang. Setelah sampai perempatan denggung kalian ambil ke kiri. Jarak dari permepatan Denggung sekitar kurang lebih 1 KM. Tanda kalau kalian telah sampai perempatan Denggung adalah kalian berada di perempatan yang dekat dengan Sleman City Hall (SCH) sebuah mall baru yang dibangun di Kabupaten Sleman. Untuk biaya masuk ke Puri Mataram sebenarnya pengunjung cukup membayar parkir sebesar Rp. 2000,- utuk kendaraan roda dua dan Rp. 5000,- untuk kendarann roda empat di tambah Rp. 10.000,- jika kalian ingin berfoto di taman bunga.

Hampir lupa ! Pada setiap hari Sabtu dan Minggu Pengunjung dapat menikmati yang istilahnya Pasar Ndelik. Di sini di jual berbagai macam makanan tradisional. Selain itu yang unik dari sini adalah lokasinya yang tersembunyi dan juga alat beli yang digunakan bukan uang seperti biasanya.


Friday, May 10, 2019

thumbnail

Pasar Kembang: Sisi Lain Dari Dunia Kupu - Kupu Malamnya

YOGYAKARTA.- Siapa yang tak kenal dengan Sarkem (Pasar Kembang)?? Salah satu lokalisasi yang cukup terkenal ini berada di Kota Yogyakarta. Sebenarnya Pasar Kembang adalah nama jalan yang tepat berada disebelah selatan Stasiun Tugu Jogjakarta. Di jalan Pasar Kembang ini terdapat sebuah gang yang disebut Gang III  Sosrowijayan. Nah di gang ini sebenarnya lokalisasi ini berada. 



Saat kalian masuk gang ini kalian akan melihat banyak wanita yang berdandan cantik. Mereka siap melayani siapa saja yang membutuhkan jasanya. Usia wanita ini cukup beragam mulai dari 20 an sampai dengan 45 tahun. Harga yang ditawarkan juga bervariasi berkisar sekitar 50 ribu - 250 ribu. 

WANITA PENGHIBUR


Mereka yang menjajakan diri di sini pun memiliki beragam alasan. Menurut S**i seorang PSK yang berumur 40 tahunan dia sudah berada di situ selama hampir 5 tahun. Dia berasal dari Solo, dia memulai kerja ini karena alasan ekonomi. Dia seorang janda dan mempunyai anak yang harus dibiayai maka dari itu ia mencoba peruntungan menjadi seorang PSK di Kota Jogjakarta. 

Lain cerita dengan S***a seorang PSK berumur 35 tahun dari Bandung. Meski sudah berumur 35 dia bisa dibilang memiliki body yang cukup sintal dan masih seperti ABG. Dia memulai kerja di dunia seperti ini sejak dia masih muda. Dia melakukan pekerjaan ini karena ditinggal oleh suaminya saat masih muda. Untuk sekali kencan dia memasang tarif 150 ribu - 250 ribu. Dia mampu melayani 5 - 6 orang pria dalam sehari. 

Namun selain itu ada juga PSK yang dikelola oleh calo. Menurut beberapa wanita yang mendapat pelanggan melalui calo, dia hanya mendapat sedikit bagian. Misal sekali kencan dapat 250 ribu mungkin dia hanya menerima 100 ribu bahkan kurang. Karena harus dibagi dengan calo dan sewa kamarnya. 

Untuk masuk ke gang ini setiap pengunjung akan ditarik uang sebesar 5 ribu rupiah oleh orang yang menjaga jalan masuk gang ini. Selain area lokalisai tempat ini juga mempunyai penyewaan kamar harian, bulanan, bahkan sewa tahunan. Untuk kamar di daerah ini dibanderol dengan harga 50 ribu - 100 ribu per malam. Jadi untuk wisatawan yang ingin mendapat penginapan murah coba cari di daerah ini. Lokasinya sangat strategis, dekat dengan Jl. Malioboro, Stasiun Tugu dan juga Kraton Yogyakarta. 

Sekian cerita hari ini tentang lokalisasi sarkem. Untuk sejarah nya kalian cari sendiri ya hehehe...

Tuesday, April 2, 2019

thumbnail

Menyambangi Masjid Gedhe Kauman, Masjidnya Orang Jogjakarta

Masjid Gedhe Kauman.- Berada di sebelah barat dari alun - alun utara Yogyakarta. Memiliki sebuah desain yang unik dan tradisional. Masjiid gedhe Kauman adalah salah satu masjid tertua di Indonesia. Usia dari masjid ini kurang lebih 200 tahun. Masjid ini dikelilingi oleh tembok yang cukup tinggi dengan pintu utama di sebelah timur. Pintu masuk utama ini menganut sistem kontruksi Semar Tinandhu (Semar dipikul). 

Masjid ini secara administratif berada di dusun kauman, kelurahan ngupasan, Gondomanan, Kota Yogyakarta. Saat ini masjid ini masih digunakan sebagaimana masjid pada umumnya. Desain arsitektur masjid ini adalah salah satu daya tarik bagi pengunjung. Baik yang akan melaksankan ibadah atau hanya sekedar ingin tahu tentang kisah dan sejarah masjid tersebut.

Masjid Gedhe Kauman memiliki konstruksi tradisional dengan sistem atap tumpang tiga. Atap tumpang tiga mengandung makna yaitu manusia dapat mencapai kesempurnaan hidup melalui tiga jalan yakni Syariat, Makrifat, dan Hakekat. Di dalam ruang utama masjid terdapat sebuah mimbar yang terbuat dari kayu yang memiliki tiga tingkat, mihrab (tempat imam memimpin sholat), dan maksura yakni sebuah bangunan berbentuk kurungan persegi yang terbuat dari kayu. Pada zamannya maksura dijadikan sebagai tempat ibadah raja demi alasan keamanan. 

Untuk bagian luar masjid terdapat kolam yang mengelilingi masjid tersebut. Pada zaman dulu kolam ini digunakan sebagi tempat membasuh kaki bagi orang yang akan memasuki masjid. Selain itu ada dua buah bangunan yang terdapat di depan masjid yang berjejer utara selatan. Bangunan ini bernama pagongan ler untuk bangunan yang berada di sebelah utara dan pagongan kidul untuk bangunan yang disebelah selatan. Pada saat acara sekaten, Pagongan Ler biasanya digunakan untuk meletakkan gamelan Kanjeng Kyai Naga Wilaga sedangkan Pagongan Kidul untuk Gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu.



Friday, March 15, 2019

thumbnail

Secuil Cerita Dari Kota Yogyakarta


Yogyakarta.- merupakan kota yang cukup terkenal di dunia. Kota ini dikenal sebagai kota pelajar dan kota budaya. Bagi kami orang asli Jogja telah banyak kenangan yang kami ukir bersama kota ini. Berbagai cerita tentang asiknya menyusuri tiap jalannya sampai dengan menikmati sunset dari atap rumah kami. Saat ini keramaian kota Jogja sudah hampir seperti Jakarta. Kepadatan penduduknya pun bisa dibilang hampir menyamai nya. Jalan - jalan yang dulunya sepi, kini mulai dipadati berbagai kendaraan. Bising dan penuh polusi kini menjadi bagian dari kehidupan kami. Saat ini Jogja menjadi salah satu destinasi wajib yang harus dikunjungi. Banyak obyek wisata yang dapat memikat hati bagi para turis lokal maupun dari luar negeri. Konon ada mitos bahwa jika seseorang pernah datang ke sini, mereka akan rindu dengan kota ini dan berharap bisa kembali.

Kota ini memang sungguh unik, mulai dari tempatnya, kondisinya bahkan juga kultur yang dimilikinya. Keramahan dan senyuman masyarakat Jogja adalah salah satu simbol terbaik bagi kota ini. Meski kadang terjadi kerusuhan, namun tak menodai citra jati dirinya. Kerukunan tetap menjadi hal yang kami jaga. Salah satu tempat yang menurutku berkesan adalah tempat – tempat yang sangat bagus untuk menikmati senja. Tempat – tempat itu antara lain di atap rumah, jembatan layang lempuyangan. Meski kadang senja tertutup mendung tak pernah kecewa hati ini rasanya. Meski orang bilang kecewa bagiku setiap jalan adalah cerita yang hampir sama nikmatnya dengan senja.

Aku, seorang yang mencintai perjalanan dan tak pernah sempat mengabadikan. Tiga tahun aku merantau di luar Jawa untuk menjalani tugas kerja. Dalam setiap perjalanan ku hanya kesan kota Jogja yang selalu aku ceritakan. Aku selalu bercerita tentang semua yang tertulis di atas dan itu semua yang membuat aku rindu. Aku kembali ke sini untuk memutuskan melanjutkan studi. Saat ini aku adalah mahasiswa salah satu perguruan tinggi di kota ini. Saat kembali pertama kali yang ku ingini adalah menikmati senja di kota ini. Kota yang oepen kenangan dan cerita. Aku yakin jika kalian pernah menikmati senja di kota ini dari sela - sela kota kalian akan mendapatkan kesan yang sama. Kesan masyarakat urban yang masih berbudaya dan juga kenangan yang tercipta.